Skip to main content

Desain arsitektur, Mengalokasikan Modal Bisnis, Menentukan Harga Layanan, Tarif dan Harga Sebuah Kreativitas

Mengalokasikan Modal Bisnis


Setelah memperhitungkan kebutuhan modal, maka langkah selanjutnya adalah merencanakan pengalokasian dana tersebut. Perencanaan pengalokasian modal ini dimaksudkan supaya modal bisnis dapat dibelanjakan secara bijaksana dan hemat. Pengalokasian modal berkaitan erat dengan proses pengadaan peralatan yang mendukung bisnis desain arsitektur.
Pada prinsipnya suatu bisnis dibilang sehat apabila jumlah pemasukan dan penerimaan lebih besar dibandingkan dengan jumlah pengeluaran. Oleh karena itu, pengendalian terhadap aliran kas merupakan hal yang penting dalam pengendalian biaya operasional bulanan.
Seorang pebisnis haruslah bijaksana dalam hal mengelola keuangan. Hal ini bertujuan agar pengeluaran tidak lebih dari anggaran yang telah ditetapkan. Untuk memulai bisnis desain arsitektur, Anda dituntut untuk benar-benar mampu memilah antara peralatan pokok dengan peralatan penunjang.

Misalnya, Anda dihadapkan pada pilihan untuk membeli perangkat komputer yang lebih murah sehingga sisa modal bisa digunakan untuk membeli furniture yang mahal dan tampak mewah. Jika Anda menghadapi masalah seperti ini, Anda harus kembali pada inti bisnis yang akan dijalankan. Mengingat bisnis yang dijalankan adalah desain arsitektur, tentunya kebutuhan perangkat komputer lebih penting dibandingkan dengan pengadaan furniture yang harganya lebih mahal.


Berkenaan dengan hal tersebut, Anda perlu menentukan prioritas dalam mengalokasikan modal bisnis. Jika peralatan ini untuk menjalankan bisnis telah terpenuhi, maka Anda bisa memenuhi perlengkapan lainnya. Satu hal yang harus diingat dalam membelanjakan modal adalah membeli dengan tidak mengutamakan emosional sehingga peralatan yang dibeli benar-benar dibutuhkan.

Menentukan Harga Layanan

Dalam menjalankan bisnis, Anda tidak hanya mengelola uang bersumber dari modal tetapi juga pendapatan atau penerimaan dari klien. Terkait dengan hal tersebut, Anda perlu menetapkan harga atas layanan yang Anda berikan kepada klien. Untuk menetapkan harga, terdapat beberapa metode yang bisa digunakan yaitu mark-up pricing, cost plus pricing, dan lain sebagainya. Selain menentukan harga layanan, Anda juga harus memperhatikan nilai produktivitas per jam. Hal ini bertujuan agar harga layanan yang Anda tetapkan bisa bersifat win-win solution bagi klien. Artinya, harga yang tetapkan tidak terlalu memberatkan klien, tetapi juga lebih dari cukup untuk mengoperasikan bisnis sehingga berpotensi meraih laba.


Tarif dan Harga Sebuah Kreativitas

Menentukan harga layanan dapat dikatakan gampang-gampang susah. Sebagai pebisnis, tentu Anda menginginkan tingkat keuntungan tinggi dan berpengaruh pada tingkat harga layanan yang cenderung mahal. Namun jika harga ditetapkan rendah, tentu akan sulit untuk menutup biaya operasional bahkan bisa jadi Anda terancam mengalami kerugian.
Lantas, bagaimana cara menetapkan harga layanan yang standar dalam arti tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu rendah?

Harga atau biaya desain arsitektur merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen atau klien yang memesan desain bangunan baik rumah maupun gedung dalam jumlah tertentu yang telah disepakati sebagai imbalan atas jasa yang diberikan oleh arsitek untuk membuat desain bangunan arsitektur. 

Harga tersebut sepenuhnya merupakan hak dari desainer untuk menetapkannya sesuai dengan tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Desain arsitektur yang tingkat kesulitannya tinggi dimana harus menampilkan detail konstruksi sudah sepantasnya dihargai lebih mahal dibandingkan dengan desain yang tingkat kesulitannya lebih rendah.

Jika Anda bergelut dalam bisnis produksi tentu penetapan harga akan lebih mudah dilakukan dimana biaya produksi per unit produk ditambah dengan tingkat keuntungan yang diinginkan, jadilah harga produk per unit. 


Metode penetapan harga ini jelas kurang sesuai jika diaplikasikan pada bisnis desain arsitektur. Mengapa demikian?
Hal ini disebabkan proses produksi desain arsitektur tidak hanya sekedar membutuhkan bahan baku seperti pada industri manufaktur, tetapi lebih pada kemampuan berpikir, imajinasi, kreativitasm dan inovasi. 
Oleh karena itulah penetapan harga pada bisnis ini cenderung bersifat abstrak, karena tidak terdapat bahan baku konkret untuk menciptakannya kecuali kertas gambar untuk mendesain, penggaris, meja gambar dan tinta yang tentu saja harganya tidak dapat dibandingkan dengan ide, pemikiran dan kreativitas dalam mendesain.


Untuk menetapkan harga sebuah desain arsitektur, terdapat beberapa metode yang bisa Anda pakai yaitu :

- Berdasarkan biaya operasional

Dalam metode ini, pertama Anda harus mengkalkulasi biaya operasional yang dikeluarkan untuk membuat desain arsitektur seperti listrik, kertas, CD Kosong, akses internet, tepon, dan lain sebagainya. Setelah Anda mengkalkulasi biaya operasional, selanjutnya Anda bisa menghargai daya pikir dan kreativitas Anda. Nah, untuk menghargai daya pikir dan kreativitas Anda ini sepenuhnya menjadi kewenangan Anda. Meskipun demikian, Anda perlu memperhatikan harga desain yang berlaku di pasaran. Hal ini dimaksudkan agar Anda bisa membandingkan harga standar dengan harga yang akan ditetapkan untuk desain arsitektur hasil karya Anda. Untuk itu Anda perlu mengobservasi dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari perusahaan-perusahaan baik yang berjalan perseorangan maupun kelembagaan yang bergerak di bidang yang sama. Dengan demikian, Anda bisa menentukan rata-rata harga dari sebuah desain arsitektur yang kemudian dijadikan sebagai harga desain Anda. Metode penetapan harga berdasarkan harga rata-rata ini mampu mengatasi masalah penetapan harga yang terlalu tinggi atau rendah.

- Berdasarkan Luas Bangunan

Harga desain arsitektur juga bisa ditentukan berdasarkan luas bangunan. Artinya harga desain ditentukan setiap meter persegi (m2) luas bangunan. Sebagai contoh misalnya Anda menetapkan harga desain sebesar Rp. 30.000 per meter persegi dan luas bangunannya adalah 250 meter persegi, maka perhitungan harga desain arsitektur adalah Rp. 30.000,- x 250 meter persegi sama dengan Rp. 7.500.000,-

- Berdasarkan Presentase Total Biaya Produksi Bangunan

Harga sebuah desain arsitektur juga dapat ditetapkan berdasarkan persentase dari total biaya produksi bangunan. Jika arsitek hanya membuatkan desainnya saja tanpa melakukan supervise atas pelaksanaan pembangunan, tingkat persentase harga yang umum adalah 3% dari total biaya produksi bangunan. Namun jika arsitek juga bertindak sebagai supervisor, maka tingkat persentase harga bisa berkisar antara 5% hingga 8% dari total biaya produksi bangunan. Biaya produksi bangunan sendiri merupakan total dana yang dikeluarkan oleh konsumen atau klien untuk membeli material dan membayar upah pekerja, pemborong atau kontraktor serta membayar pajak dan lain sebagainya. Biaya produksi bangunan ini biasanya ditaksir antara Rp. 2.500.000,- hingga Rp. 3.500.000,- per meter persegi luasa bangunan yang akan didirikan. Penetapan harga desain arsitektur dengan metode dapat dicontohkan sebagai berikut :
Desain bangunan yang akan dibuat adalah seluas 160 meter persegi. Biaya produksi bangunan diketahui sebesar Rp. 2.500.000 per meter persegi. Sementara besarnya biaya desain atau upah untuk arsitek adalah sebesar 3% dari total biaya produksi. Dari contoh kasus ini, besar harga atau biaya desain arsitektur dapat diestimasikan sebagai berikut :
Harga desain arsitektur = 3% x 160 meter persegi x Rp. 2.500.000,- sama dengan Rp. 12.000.000,-


Harga Layanan Konsultasi


Dalam menjalankan bisnis tesain arsitektur, Anda tidak hanya sekedar menjual ide-ide yang tertuang dalam bentuk desain tetapi Anda juga bisa membuka layanan konsultasi berkenaan dengan model konstruksi bangungan. Layanan konsultasi ini bisa menjadi bisnis sampingan Anda selain bisnis utama Anda yakni membuat desain arsitektur. Di sini, Anda bisa memberikan masukan kepada klien mengenai model bangunan yang sesuai dengan contour tanah dan luas lahan.

Berkenaan dengan layanan konsultasi arsitektur, Anda perlu menetapkan harga khusus di luar pembuatan desain arsitektur. Artinya Anda bisa menetapkan harga konsultasi terpisah dari harga pembuata desain arsitektur. Penetapan harga untuk layanan konsultasi dapat dilakukan dengan menghitung rata-rata penghasilan dalam satu bulan dibagi dengan jumlah jam kerja dalam satu bulan. Sebagai contoh, misalnya dalam sebulan Anda memperoleh penghasilan rata-rata sebesar Rp. 40.000.000,- dan Anda bekerja selama 8 jam sehari selama 5 hari kerja, sehingga dalam sebulan Anda bekerja selama 20 hari kerja. Dari contoh kasus ini, harga atau biaya layanan konsultasi arsitektur dapat dihitung sebagai berikut :
Harga layanan konsultasi = Rp. 40.000.000 dibagi 8 jam x 20 hari, berarti 40.000.000 dibagi 160 sama dengan Rp. 250.000,-

Jadi harga layanan konsultasi perjam sama dengan Rp. 250.000,-

Harga layanan konsultasi desain arsitektur tersebut bisa Anda berlakukan sesuai dengan kebijakan Anda. Artinya, layanan konsultasi bisa Anda berikan sebagai bonus yang menjadi satu paket dengan harga desain arsitektur yang dipesan oleh konsumen atau klien. Namun, Anda juga bisa memberikan layanan konsultasi dengan harga terpisah dari harga desain arsitektur. Pemberlakuan harga layanan konsultasi ini pada dasarnya tergantung pada peluang pasar dan persaingan yang ada.

Memprediksi Penerimaan Usaha


Salah satu faktor penting yang memiliki peranan vital dalam menjalankan suatu usaha adalah penerimaan. Jika tidak terdapat penerimaan, maka usaha yang dijalankan mustahil dapat tumbuh dan berkembang tetapi justru akan mengalami kebangkrutan. Oleh sebab itulah, Anda harus memprediksi penerimaan atas bisnis desain arsitektur yang Anda jalankan.

Penerimaan usaha merupakan sumber untuk membiayai segala pengeluaran yang terjadi selama proses operasional berjalan. Selain itu, penerimaan juga berfungsi sebagai sumber atas penghitungan profit atau tingkat laba yang Anda peroleh. Pentingnya fungsi dari penerimaan ini harus senantiasa diperhatikan bahkan diprioritaskan agar bisnis Anda tetap bisa berjalan bahkan mengalami kemajuan.

Berbicara masalah penerimaan, tidak lepas dari kas artinya dana yang tersedia dalam bentuk uang tunai. Sebagai bisnis yang bergerak di bidang jasa atau layanan, penerimaan dalam bisnis desain arsitektur tidak seluruhnya diterima dalam bentuk kas, tetapi lebih pada bentuk piutang (account receivable). Metode pembayaran jasa desain arsitektur yang berlaku secara umum adalah klien memberikan uang muka dalam jumlah tertentu sebagai tanda jadi pemesanan desain arsitektur. Selama desain arsitektur yang dipesan belum selesai, maka klien belum akan membayar pelunasan atas desain yang dipesannya. Pelunasan baru akan dilakukan setelah arsitek menyelesaikan desain arsitektur yang dipesan dan klien menyetujui desain tersebut.

Meskipun demikian, kelancaran pelunasan tergantung pada karakter klien karena pada kenyataannya ada saja klien yang melakukan wanprestasi atau mengingkari perjanjian pembayaran yang telah disepakati bersama. Sisa pembayaran yang belum dilunasi inilah yang disebut dengan piutang. Jika piutang ini tidak segera diubah menjadi kas, maka bisa berakibat pada tersendatnya aliran kas.

Untuk menghindari klien yang wanprestasi, Anda bisa menetapkan kebijakana berkejaan dengan pembayaran piutang. Sebagai contoh misalnya Anda memberikan tenggang waktu seperti 15 hari, 30 hari atau maksimal 60 hari. Selain itu, untuk memotivasi klien dalam melakukan pembayaran, ANda juga bisa memberikan bonus layanan, misalnya jika pelunasan dilakukan sebelum 15 hari, klien akan mendapatkan layanan konsultasi gratis selama 3 kali.

Dalam menjalankan bisnis desain arsitektur ini, Anda harus pandai-pandai mengelola piutang Anda. Mengapa demikian? Perlu Anda ketahui bahwa kegagalan bisnis desain arsitektur ini salah satunya disebabkan bahwa masalah uang merupakan masalah sensitif, sehingga Anda juga harus berhati-hati dan bersikap bijaksana, jangan sampai klien merasa tersinggung bahkan sakit hati atas penagihan pelunasan yang Anda lakukan. Untuk menghindari hal tersebut, Anda bisa mengingatkan klien akan kewajibannya untuk segera melunasi biaya yang masih tersisa dengan memberikan surat pemberitahuan.

Penerimaan dalam bentuk kas sangatlah penting agar Anda dapat membiayai operasional bisnis Anda. Meskipun bisnis Anda bukanlah manufaktur, namun tetaplah diperlukan biaya untuk mengoperasionalkannya misalnya saja listrik, telepon, kertas, dan lain sebagainya. Jika aliran kas Anda terganggu dan Anda tidak dapat membayar tagihan tersebut, maka kelangsungan bisnis Anda yang akan dipertaruhkan. Oleh karena itu, aliran kas harus senantiasa diperhatikan agar Anda dapat mengetahui jumlah kas yang tersedia dan kapan waktu yang tepa bagi Anda untuk melakukan penagihan piutang kepada klien.

Kas yang dibutuhkan untuk membiayai operasional bisnis dapat ditentukan dari rata-rata peneribaan dibagi dengan jumlah hari kerja dalam satu bulan. Sebagai contoh misalnya, rata-rata penerimaan Anda selama satu adalah sebesar Rp. 40.0000.000,- dan Anda bekerja selama 20 hari dalam sebulan. Dengan demikian, dapat di hitung jumlah kas yang dibutuhkan untuk membiayau operasional per hari adalah seperti berikut ini :

Kebutuhan Kas perhari = Rp. 40.000.000,- dibagi 20 = Rp. 2.000.000,-

Dari hasil perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa jika Anda memperoleh penerimaan rata-rata Rp. 40.000.000,- per bulan dan jumlah hari kerja Anda dalam satu bulan adalah 20 hari, maka Anda harus menyediakan biaya operasional per hari paling tidak sebesar Rp. 2.000.000,-. Jika jumlah kas per hari tersebut tidak dapat Anda penuhi, maka akibatnya pembayaran atas tagihan biaya operasional akan terganggu.
Postingan Terbaru

Popular posts from this blog

Tolok ukur untuk tiga sudut pandang Ekonomis, Moral dan Hukum

Tolok Ukur Untuk Tiga Sudut Pandang ini Bagaimana kita tahu bahwa bisnis itu baik menurut tiga sudut pandang tadi?  Apa yang menjadi tolok ukurnya?  Untuk sudut pandang ekonomis, pertanyaan ini tidak sulit untuk dijawab. Secara ekonomis, bisnis adalah baik, kalau menghasilkan laba. Hal itu akan tampak dalam laporan akhir tahun, yang harus disusun menurut metode kontrol finansial dan akuntansi yang sudah baku. Untuk sudut pandang hukum pun, tolok ukurnya cukup jelas. Bisnis adalah baik, jika diperbolehkan oleh sistem hukum. Penyelundupan, misalnya, adalah cara berdagang yang tidak baik, karena dilarang oleh hukum. Contoh ini cukup menarik, karena tergantung pada cara diaturnya sistem ekonomi. Dalam sistem ekonomi pasar bebas yang konsekuen, malah tidak mungkin terjadi penyelundupan. Jika kadang kala kita ragu-ragu tentang boleh tidaknya suatu tindakan bisnis menurut segi hukum, kita bisa mengajukan masalah ini ke pengadilan dan minta keputusan hakim. Lebih sulit untuk

Perkembangan etika bisnis, Situasi dahulu, Masa Peralihan: tahun 1960-an

Perkembangan etika bisnis Sepanjang sejarah, kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Perhatian etika untuk bisnis seumur dengan bisnis itu sendiri. Sejak manusia terjun dalam perniagaan, disadari juga bahwa kegiatan ini tidak terlepas dari masalah etis. Misalnya, sejak manusia berdagang ia tahu tentang kemungkinan penipuan. Dalam teks-teks kuno sudah dapat dibaca teguran kepada pemilik toko yang menipu dengan mempermainkan timbangan. Pedagang yang menipu langganan dengan menjual barangnya menurut pengukuran berat yang tidak benar, berlaku tidak etis."'1 Aktivitas perniagaan selalu sudah berurusan dengan etika, artinya selalu harus mempertimbangkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Memang benar, sejak ditemukannya bisnis, etika sudah mendampingi kegiatan manusiawi ini. Namun demikian, jika kita menyimak etika bisnis sebagaimana dipahami dan dipraktekkan sekarang, tidak bisa disangkal juga, di sini kita menghadap

Etika Bisnis Di Tinjau Dari Sudut Pandang Hukum

Sudut Pandang Hukum Tidak bisa diragukan, bisnis terikat juga oleh hukum. "Hukum dagang" atau "hukum bisnis" merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan dengan bisnis, pada taraf nasional maupun internasional. Seperti etika pula, hukum merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum bahkan lebih jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam atas putih dan ada sanksi tertentu, bila terjadi pelanggaran. Terdapat kaitan erat antara hukum dan etika. Dalam kekaisaran Roma sudah dikenal pepatah: Quid leges sine moribus?, "apa artinya undang-undang, kalau tidak disertai moralitas?" Etika selalu harus menjiwai hukum. Baik dalam proses terbentuknya undang-undang maupun dalam pelaksanaan peraturan hukum, etika atau moralitas memegang peranan penting. Di sini bukan tempatnya untuk mem

Bisnis dan Etika dalam Dunia Modern, Tiga aspek pokok dari bisnis

Bisnis dan Etika dalam Dunia Modern Tiga aspek pokok dari bisnis Bisnis modern merupakan sebuah realitas yang sangat kompleks. Dalam menentukan kegiatan bisnis banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya organisatoris-manajerial, ilmiah-teknologis, dan politik-sosial-kultural. Dari kekompleksitasan bisnis itu berkaitan langsung dengan kompleksitas masyarakat modern sekarang. Dengan kompleksitasnya masyarakat modern, maka akan banyak cara untuk menjalin kegiatan sosial dan bisnis. Pembahasan dan penganalisisan faktor pembentuk kompleksitas bisnis modern banyak sekali dibahas di berbagai forum ilmiah, khususnya ilmu ekonomi dan teori manajemen. Dan untuk bahasan ini kita menyoroti suatu aspek bisnis yang sampai sekarang jarang disentuh dalam pembahasan lain, Namun semakin banyak yang mengakui pentingnya, yaitu aspek etis atau moralnya.  Untuk menjelaskan kekhususan aspek etis ini, dalam suatu pendekatan pertama kita perlu bandingkan dulu dengan aspek-aspek lain, yang tidak
Copyright © Etika Bisnis. All rights reserved.